Iva Misbah @ivamsbh 22 Oct
aku gak terlalu suka novel yg sangat romantis. tp #Embun ditulis dgn baik dan tidak menitikberatkan pada relasi romantik tokohnya
@ivamsbh, 22 Oct
done reading #Embun by Okyb R. Mushashi. it tells about memory and how people deal with it. a romantic novel which is written in a good way
Rabu, 11 Desember 2013
Resensi Novel Embun
http://www.rimanews.com/read/20131026/123642/antara-pengingkaran-dan-rasa-kehilangan
Antara Pengingkaran dan Rasa Kehilangan
Sat, 26/10/2013 - 21:11 WIB
Ketika memutuskan untuk menjauhkan diri dari Elin, Vaya tidak pernah
berpikir bahwa dia akan kehilangan adik angkatnya itu untuk selamanya.
Waktu itu dia hanya bermaksud menghindar sementara, setidaknya sampai
persoalan di antara mereka selesai dengan sendirinya. Meskipun,
sejujurnya, dia menyadari persoalan itu tidak akan selesai begitu saja.
Semua akan tidak mudah, baik buat dirinya maupun buat Elin. Mereka
terjebak pada situasi yang pelik untuk diatasi.
Lalu datanglah hari itu. Sepucuk surat mengabarkan kepergian Elin
secara tiba-tiba. Tanpa pamitan, tanpa kata perpisahan. Dihadang oleh
ketakutan akan masa depan, Elin memilih menarik diri dan merunut benang
masa lalunya yang kelam. Dia pergi untuk mencari orang tua kandungnya;
orang tua yang tidak pernah dia ingat baik nama maupun rautnya.
Barangkali benar bahwa Elin ingin merindukan orang tuanya. Namun, Vaya
tahu, persoalan sesungguhnya bukan di situ. Mencari orang tua hanyalah
dalih, atau bentuk pelarian diri.
Selama bertahun-tahun selanjutnya Vaya hidup dalam penyesalan. Dia
telah kehilangan semua miliknya yang berharga: ibunya, ayahnya, adik
angkatnya, dan, terutama, masa lalunya. Dia didera pertanyaan: benarkah
apa yang sudah dia lakukan? Dia ingin kembali menemukan masa lalunya.
Satu-satunya cara adalah dia harus menemukan kembali adik angkatnya. Dia
harus berjumpa kembali dengan Elin.
Dan, datanglah sepucuk surat itu. Surat kedua dari Elin sejak dia
menghilang. Surat yang menarik Vaya dari kebisingan Jakarta menuju
kampung halaman yang lama dia tinggalkan. Surat itu serupa tali
layang-layang: seberapapun tinggi Vaya terbang, tali itu tidak akan
pernah membiarkannya terlepas.
Embun adalah cerita tentang kenangan. Di dalamnya menguar aroma
persahabatan, cinta, dan pertentangan. Juga rasa sedih dan kehilangan. ■
_____________________________
Penulis: Okyb R. Mushashi
Penerbit: Kreasi Cendekia Pustaka
Cetakan: I, Oktober 2013
Ukuran: 13,5 x 20 cm
Tebal: x + 22 hlm
ISBN: 978-602-19987-4-8
Peresensi: Efriza, Penulis dan Penikmat Buku, Tinggal di Depok II Timur
Resensi Novel Embun
Minggu, 25 November 2012
SUSAHNYA MENJADI GADIS
Teenlit
Judul: "SUSAHNYA MENJADI GADIS"
Penulis: Ira Puspitasari
Penerbit: Kreasi Cendekia Pustaka (KCP)
Tahun: 2012
Biaya: Rp. 25.000 (belum termasuk ongkos kirim)
Selasa, 09 Oktober 2012
Risensi Buku
Doktrin Agama dan Pemberontakan
Tue, 09/10/2012 - 23:57 WIB
Rimanews.com (http://www.rimanews.com/read/20121009/78031/doktrin-agama-dan-pemberontakan)
Selama abad ke-19, serentetan pemberontakan di Banten terhadap otoritas
kolonial Belanda meletus dalam skala kecil maupun besar, sehingga
Banten disebut sebagai tempat persemaian dan gelanggang pemberontakan.
Salah satu pemberontakan besar terjadi pada 9 Juli 1888 yang disebut
sebagai Pemberontakan Petani Banten.
Di tinjau dari segi gerakan sosial, faktor-faktor yang menyebabkan pergolakan dan keresahan sosial sangat kompleks dan beranekaragam. Peristiwa revolusioner itu bisa diletakkan di dalam konteks perkembangan kelembagaan ekonomi, sosial, politik, dan agama. Aspek politik merupakan faktor yang menonjol dalam semua gerakan sosial di Banten, termasuk Pemberontakan Petani Banten 1888. Kebencian rakyat terhadap pamong praja Banten hampir sama mendalamnya dengan permusuhan terhadap penguasa-penguasa asing, yaitu Belanda. Sebab, para pamong praja menjadi agen-agen kolonial sebagai pemungut pajak rakyat Banten. Kegusaran penduduk terhadap pajak berubah menjadi pemberontakan ketika mereka harus menjual hasil pertaniannya dengan harga yang rendah. Ditambah lagi wabah penyakit dan bencana alam menjadi lengkaplah penderitaan rakyat, yang mendorong mereka ingin mengakhiri penderitaan dengan memberontak.
Namun, pemberontakan tidak akan pernah meletus, tanpa seorang pemimpin. Para pemimpin pemberontak datang dari kalangan elite agama atau kiai dan kaum aristokrat lama, yang merasa kedudukan istimewanya terancam oleh pemerintah kolonial Belanda. Tersisihnya mereka dari ranah politik rupanya telah menyebabkan mereka mudah terpengaruh untuk melakukan dan menggerakkan pemberontakan, sebagai cara untuk menyalurkan ketidakpuasan dan rasa dendam mereka. Sikap memberontak ini juga diperkuat lagi oleh kebencian religius mereka terhadap kekuasaan “orang-orang kafir.” Tidak disangsikan lagi bahwa hampir semua pemberontakan diwarnai oleh faktor keagamaan.
Tokoh penting dalam pemberontakan petani Banten adalah Syekh ‘Abd al-Karim al-Bantani, seorang khalifah tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah. Dia yang lama tinggal dan belajar di Mekah, kembali ke Banten. Dalam waktu tiga tahun di kampung halamannya dia menanamkan doktrin-doktrin agama yang mendorong pecahnya pemberontakan, antara lain kedatangan Imam Mahdi, peringatan terakhir Nabi Muhammad Saw., mendirikan negara Islam (Dar al-Islam), dan Perang Sabil (Jihad fi Sabilillah). Buku karya wartawan majalah Historia ini berusaha menggali peranan Syekh ‘Abd al-Karim dalam menanamkan doktrin-doktrin tersebut.
Meskipun Syekh ‘Abd al-Karim tidak ikut dalam pemberontakan karena dipanggil kembali ke Mekah oleh gurunya Ahmad Khatib al-Sambasi, namun dia telah menanamkan doktrin-doktrin keagamaan yang menjadi bekal bagi para pemberontak. Dalam hal ini – meminjam istilah John L. Esposito dalam menjuluki pemikir Iran Ali Syari’ati dalam revolusi Islam Iran – kita bisa menyebut Syekh ‘Abd al-Karim sebagai “perumus dan penyedia ideologi revolusi.” Dengan kata lain, Syekh ‘Abd al-Karim-lah yang telah mempersiapkan doktrin-doktrin agama atau landasan spiritual bagi rakyat Banten untuk melakukan pemberontakan.
Doktrin-doktrin keagamaan yang disampaikan Syekh ‘Abd al-Karim kemudian disemaikan oleh murid-muridnya yaitu Haji Marjuki, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Wasid; telah menjadi landasan rasional kepada gerakan pemberontakan. Sehingga mereka memahami pemberontakan tersebut sebagai jalan satu-satunya untuk melakukan protes terhadap penguasa kolonial, di mana sebelumnya mereka tidak memiliki atau tidak tersedia cara-cara yang sah untuk menyatakan protes atau perasaan tidak senang terhadap kebijakan kolonial.
Namun yang perlu segera ditegaskan di sini adalah, menukil Endorsment dari Dr. Asvi Warman Adam, Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ” Apakah ulama menjadi dalang pemberontakan Banten tahun 1888? Bacalah dalam buku ini. Apakah perlawanan petani terhadap penjajah Belanda yang memakan korban jiwa pada kedua belah pihak kurang dari 50-orang itu dapat dikategorikan sebagai pemberontakan? Renungkanlah setelah membaca buku ini.” Selamat Membaca!
***
________________________________
Peresensi : Efriza, Penulis dan Penikmat Buku, tinggal di Depok II Timur
Penulis : Hendri F. Isnaeni
Penerbit : Kreasi Cendekia Pustaka
Terbit : I, September 2012
Ukuran : 15 x 23 cm
Tebal : x + 118 hlm
ISBN : 978-602-19987-3-1
Di tinjau dari segi gerakan sosial, faktor-faktor yang menyebabkan pergolakan dan keresahan sosial sangat kompleks dan beranekaragam. Peristiwa revolusioner itu bisa diletakkan di dalam konteks perkembangan kelembagaan ekonomi, sosial, politik, dan agama. Aspek politik merupakan faktor yang menonjol dalam semua gerakan sosial di Banten, termasuk Pemberontakan Petani Banten 1888. Kebencian rakyat terhadap pamong praja Banten hampir sama mendalamnya dengan permusuhan terhadap penguasa-penguasa asing, yaitu Belanda. Sebab, para pamong praja menjadi agen-agen kolonial sebagai pemungut pajak rakyat Banten. Kegusaran penduduk terhadap pajak berubah menjadi pemberontakan ketika mereka harus menjual hasil pertaniannya dengan harga yang rendah. Ditambah lagi wabah penyakit dan bencana alam menjadi lengkaplah penderitaan rakyat, yang mendorong mereka ingin mengakhiri penderitaan dengan memberontak.
Namun, pemberontakan tidak akan pernah meletus, tanpa seorang pemimpin. Para pemimpin pemberontak datang dari kalangan elite agama atau kiai dan kaum aristokrat lama, yang merasa kedudukan istimewanya terancam oleh pemerintah kolonial Belanda. Tersisihnya mereka dari ranah politik rupanya telah menyebabkan mereka mudah terpengaruh untuk melakukan dan menggerakkan pemberontakan, sebagai cara untuk menyalurkan ketidakpuasan dan rasa dendam mereka. Sikap memberontak ini juga diperkuat lagi oleh kebencian religius mereka terhadap kekuasaan “orang-orang kafir.” Tidak disangsikan lagi bahwa hampir semua pemberontakan diwarnai oleh faktor keagamaan.
Tokoh penting dalam pemberontakan petani Banten adalah Syekh ‘Abd al-Karim al-Bantani, seorang khalifah tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah. Dia yang lama tinggal dan belajar di Mekah, kembali ke Banten. Dalam waktu tiga tahun di kampung halamannya dia menanamkan doktrin-doktrin agama yang mendorong pecahnya pemberontakan, antara lain kedatangan Imam Mahdi, peringatan terakhir Nabi Muhammad Saw., mendirikan negara Islam (Dar al-Islam), dan Perang Sabil (Jihad fi Sabilillah). Buku karya wartawan majalah Historia ini berusaha menggali peranan Syekh ‘Abd al-Karim dalam menanamkan doktrin-doktrin tersebut.
Meskipun Syekh ‘Abd al-Karim tidak ikut dalam pemberontakan karena dipanggil kembali ke Mekah oleh gurunya Ahmad Khatib al-Sambasi, namun dia telah menanamkan doktrin-doktrin keagamaan yang menjadi bekal bagi para pemberontak. Dalam hal ini – meminjam istilah John L. Esposito dalam menjuluki pemikir Iran Ali Syari’ati dalam revolusi Islam Iran – kita bisa menyebut Syekh ‘Abd al-Karim sebagai “perumus dan penyedia ideologi revolusi.” Dengan kata lain, Syekh ‘Abd al-Karim-lah yang telah mempersiapkan doktrin-doktrin agama atau landasan spiritual bagi rakyat Banten untuk melakukan pemberontakan.
Doktrin-doktrin keagamaan yang disampaikan Syekh ‘Abd al-Karim kemudian disemaikan oleh murid-muridnya yaitu Haji Marjuki, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Wasid; telah menjadi landasan rasional kepada gerakan pemberontakan. Sehingga mereka memahami pemberontakan tersebut sebagai jalan satu-satunya untuk melakukan protes terhadap penguasa kolonial, di mana sebelumnya mereka tidak memiliki atau tidak tersedia cara-cara yang sah untuk menyatakan protes atau perasaan tidak senang terhadap kebijakan kolonial.
Namun yang perlu segera ditegaskan di sini adalah, menukil Endorsment dari Dr. Asvi Warman Adam, Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ” Apakah ulama menjadi dalang pemberontakan Banten tahun 1888? Bacalah dalam buku ini. Apakah perlawanan petani terhadap penjajah Belanda yang memakan korban jiwa pada kedua belah pihak kurang dari 50-orang itu dapat dikategorikan sebagai pemberontakan? Renungkanlah setelah membaca buku ini.” Selamat Membaca!
***
________________________________
Peresensi : Efriza, Penulis dan Penikmat Buku, tinggal di Depok II Timur
Penulis : Hendri F. Isnaeni
Penerbit : Kreasi Cendekia Pustaka
Terbit : I, September 2012
Ukuran : 15 x 23 cm
Tebal : x + 118 hlm
ISBN : 978-602-19987-3-1
Minggu, 30 September 2012
Rabu, 27 Juni 2012
Telah Terbit
Info:
Sudah dapat dipesan dan dimiliki
Karya Saifullah Ma'shum
"DPR Terhormat DPR DIHUJAT," Kreasi Cendekia Pustaka (KCP), Jakarta, 2012 Rp. 45.000
Lebih lanjut Hub: 0813 80 570 370, Efriza
Sudah dapat dipesan dan dimiliki
Karya Saifullah Ma'shum
"DPR Terhormat DPR DIHUJAT," Kreasi Cendekia Pustaka (KCP), Jakarta, 2012 Rp. 45.000
Lebih lanjut Hub: 0813 80 570 370, Efriza
Langganan:
Postingan (Atom)



